Keep Bandung Beatiful euy.......

17 April 2013

Ayam Penyet Surabaya

Pedasnya Sambal
Ayam Penyet Surabaya
Bikin Penasaran

Jika Anda penasaran mencari sajian yang pedas dan lezat, sudah saatnya anda mengajak keluarga atau rekan mengunjungi suatu tempat di Bandung. 
Yang penuh dengan "sejuta" menu khas, Tempat yang dimaksud adalah Laboga Signature di Jalan Buahbatu No. 159, Bandung.

Menu Pilihan LABOGA KATERING

1. Menu Lauk 

Ayam Bakar Rp. 15.000, Ayam Penyet Rp. 15.000, Ayam Goreng Rp. 15.000, Pecel Lele Rp. 9.000, Ayam br Goreng Rp. 9.000, Ayam br Penyet Rp. 8.000, Bebek Goreng Rp. 20.000, Gurame/Nila Rp. 15.000, Nasi Uduk Rp. 5.000

2. Menu Lauk Tambahan

Ayam asam Manis Rp. 3.000, Ayam Kecap Rp. 3.000, Sate Ayam Rp. 1.000, Sate Kambing Rp. 1.500, Sate Sapi Rp. 1.500, Cumi Goreng Tepung Rp. 3.000, Beef Blackpapper Rp. 6.500, Ikan asam manis Rp. 1.500, Sawi Putih Rp. 1.500, Sawi Hijau Rp. 1.500 

3. Sayur

Brokoli Rp. 2.000, Capcay Rp. 1.500, Tumis Buncis Rp. 1.500, Tumis Kacang Panjang Rp. 1.500, Urap Rp. 1.500, Sambel Kacang Tempe Rp. 1.500, Oseng Kikil Rp. 2.500, Oseng Iga Rp. 2.500, Pare Rp. 1.500, Sawi Putih Rp. 1.500, Sawi Hijau Rp. 1.500, Sambel Kentang Kering Rp. 2.000, Sambel terong Rp. 1.500, Tempe Lombek Ijo Rp. 1.500, Teri Lombok Ijo Rp. 2.000, Sambel Kentang Ati Rp. 3.000, Gado-gado Rp. 1.500, Pecel Rp. 1.500, Lotek Rp. 1.500, Tumis Tauge Rp. 1.500, Bunga Pepaya Rp. 1.500

4. Sayur Berkuah

Sop Ayam Rp. 1.500, Tomyam Rp. 3.000, Sayur Asem Rp. 2.000, Gulai Nangka Rp. 2.000, Lodeh Rp. 2.000, Sop Bakso Rp. 2.500, Sop Sosis Rp. 2.500, Sop Iga Rp. 3.000  

5. Kerupuk

Udang Rp. 1.500, Emping Rp. 1.500, Karak Rp. 1.500, Peyek Kacang Rp. 1.500, Peyek Teri Rp. 1.500, Krupuk Rp. 1.500, Rambak Rp. 1.500

6. Buah

Pisang Rp. 1.500, Jeruk Rp. 1.500, Semangka Rp. 1.500, Melon Rp. 1.500, Kueni Rp. 1.500, Pepaya Rp. 1.500, Jambu Rp. 1.500, Belimbing Rp. 1.500 

 (Tribun JABAR)

16 April 2013

KULINER BANDUNG (WEST JAVA)

A. Menu Steak dan Iga

  • Iga Bakar Mas Giri, Jl. RE Martadinata No. 118
  • Cafe Anggrek Merah, Jl. Anggrek No. 55
  • Wusto's Cafe, Jl. RE Martadinata No.205
  • Day's Steak, Jl. Trunojoyo No. 23
  • Suis Butcher, Jl. RE Martadinata No. 201
  • Waroeng Staek & Shake, Jl. Lodaya No. 63
  • Cikawao Steak, Jl. Cikawao No. 41B
  • Pasadena Resto, Jl. Sukamaju No.33
  • OZT Cafe & Steah House, Taman Kopo Indah I Blok Q No. 6-7
  • Double Steak, Jl. Jawa
  • Eaters.com Cafe & Resto, Jl. Bengawan No. 82
  • Iga Bakar si Jangkung, Jl. Cipaganti No. 75G
  • Iga Bakar Buncit, Jl. RE Martadinata No. 62
  • Rib'z Cafe, Simpang, Jl. Cisangkuy - Jl. Citarum   
  • Obonk Steak & Ribs, Jl. Dipatiukur No. 83
  • Naripan Steak, Jl. Progo No. 5
  • Abuba Steak, Jl. Prabu Dimuntur No. 12
  • Longhorn Steak & Ribs, Jl. Ir. H. Juanda No. 61-63
  • Iga Bakar Jogja, Jl. Wastukencana No. 51
  • Iga Bakar Bang Ote, Jl. Buahbatu No. 302
  • Lokomotif Kuliner Cafe n Resto, Jl. Perintis Kemerdekaan No. 1
  • Iga WS, Jl. Taman Pramuka No. 118

 B. Hidangan Mi dan Baso

  • Mie Dagor, Jl. Mutiara Raya No. 10 Buahbatu
  • Mie Jogja Pak Karso, Jl. ABC No. 103
  • Baso Bintang Avon, Jl. Ahmad Yani 29A
  • Bakmi Jowo DU67, Jl. Dipatiukur No. 67
  • Bakmi Jogja, Jl. Bengawan No. 83
  • Bakmi Jogja Pak Roso, Jl. Palasari No. 37
 (Tribun Jabar)




  

23 Desember 2011

DSLR Field Test: Ipod Touch Giveaway

DSLR Field Test: Ipod Touch Giveaway: This week we are giving away an ipod touch. Everyone may enter! Worldwide FREE shipping. Giveaway Ends December 31, 2011 Just drop your e...

20 Juli 2011

Jalan Alternatif Menuju Obyek Wisata Ciwidey

Banyak alternatif untuk mengisi liburan di Bandung, salah satunya adalah menuju obyek wisata Ciwidey, tapi sayangnya untuk menuju obyek wisata ciwidey keluar melalui jalan tol Kopo pada hari - hari libur atau weekend terbilang macet, ada Jalan lain menuju obyek wisata ciwidey, Exit melalui gerbang tol Pasirkoja ambil ke arah kiri ke arah Cimahi, setelah itu ambil arah kiri menuju Jalan Holis (Baso Panghegar) selanjutnya ikuti petunjuk jalan, dijamin nga macet deh....

11 November 2010

Tak Lengkap Jika Tak Rafting di Green Canyon

ASYIK dan menegangkan! Itulah ungkapan yang seusai ketika kita merasakan pengalaman rafting di Green Canyon, di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis. Adrenalin terus dipompa setiap melalui rintangan yang ada. Dari berenang melawan arus, merambat bebatuan, hingga bersampan sembari memancing.

Untuk menuju lokasi Green Canyon, disediakan perahu di Dermaga Ciseureuh, yang letaknya sekitar 31 kilometer dari objek wisata Pantai Pangandaran. Perahu itu siap mengantarkan wisatawan dengan mengarungi Sungai Cijulang terlebih dulu, yang ditempuh sekitar 15 menit.

Sepanjang perjalanan di sungai yang memiliki lebar sekitar dua puluh meter ini, banyak pemandangan alam eksotis yang bisa dinikmati. Apalagi, sungai dengan air menghijau itu memiliki jalur yang berkelok dan berada di antara hutan lindung yang masih lebat. Namun, keindahan itu ternyata belum seberapa.

Perahu akan berhenti tepat di bawah jembatan tanah, yang sering disebut sebagai Cukang Taneuh. Pemandangan di sini lebih menakjubkan. Sungai Cijulang membelah tebing bebatuan yang makin menyempit dan menyimpan keindahan. Di sinilah tantangan yang sebenarnya.

Mulai di bawah jembatan tanah ini, percikan air dari tebing terus mengalir. Percikan air ini disebut sebagai hujan abadi karena tidak pernah berhenti.

Untuk terus menempuh sungai dan masuk di antara tebing, wisatawan harus berenang. Tepat di bawah jembatan tanah, sudah ada dua tali yang dipasang untuk menahan badan wisatawan dari derasnya arus. Ini baru awal. Wisatawan yang ingin terus melanjutkan perjalanan harus didampingi pemandu dan mengenakan pelampung.

Setelah membenamkan diri ke dalam sungai, wisatawan harus berenang melawan arus dan meraih batu- batu besar. Tribun berkesempatan untuk mencoba tantangan ini, dengan dua pemandu yang berasal dari Guha Bau Body Rafting. Satu pemandu menjadi penunjuk jalan, sedangkan pemandu lainnya membawa perlengkapan kamera.

Untuk mencapai satu batu satu ke batu lainnya, kami harus melalui perjuangan yang berat. Tidak hanya berenang, tapi juga melangkah dan menempel di tebing-tebing batu. Pemandu di depan juga bersiap menarik dengan tali, saat berenang melawan arus.

Setelah menaklukkan rintangan melawan arus dan merambat di tebing selama beberapa ratus meter, ada sebuah batu besar. Batu ini berada di ketinggian sekitar lima meter, dan dari atas tebing keluar percikan air deras. Batu ini biasanya digunakan untuk berfoto. Untuk kembali melanjutkan perjalanan, wisatawan harus melompat ke sungai.

Perjalanan berakhir di Kolam Putri. Untuk menuju kolam ini, kami harus mendaki tebing sekitar tujuh meter. Kolam kecil ini adalah genangan air yang ada di tepi tebing. Airnya pun sangat dingin dibandingkan dengan air sungai.

Menurut seorang pemandu, Gunawan, air di Kolam Putri tidak bertambah ataupun berkurang. "Kalau wisatawan yang datang dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, pasti mau mengambil air dari Kolam Putri untuk diminum. Mereka percaya air ini bisa menyembuhkan penyakit kanker dan asma," kata pria berusia 19 tahun ini. Bahkan, ada pengunjung dari Jakarta yang langsung meminum air setelah sampai di Kolam Putri.

Sejenak berada di Kolam Putri, kami akhirnya kembali menuju jembatan tanah. Untuk menuju berkumpulnya perahu itu, kami harus melalui rintangan terakhir, yaitu berenang mengikuti arus.  Lagi- lagi, tantangan ini juga memacu adrenalin karena kami harus menghindari batu di tengah sungai. Namun, pemandu siap memberitahukan di mana letak bebatuan agar bisa dihindari.

Setelah mengarungi beragam tantangan, kami menuju sebuah tempat peristirahatan di tepi  sungai. Di tempat ini, ikan bakar berikut sambal kecap menjadi santapan siang, sebelum akhirnya kembali menuju awal pemberangkatan di dermaga. Benar-benar pengalaman wisata yang tidak terlupakan.

Kawasan wisata Green Canyon di Kabupaten Ciamis ini mulai dikembangkan pada 1989. Nama Green Canyon mulai dipopulerkan turis asal Prancis dan Swiss, yang bernama Frank dan Astrid, yang datang ke Cukang Taneuh pada 1990. Letaknya berdekatan dengan Pantai Batu Karas atau sekitar 31 kilometer dari Pantai Pangandaran.

Saat ini, sudah ada puluhan perahu yang siap mengantar hingga jembatan tanah dari Dermaga Ciseureuh dengan tarif Rp 75 ribu per orang. Satu perahu maksimal memuat lima penumpang, dengan dua operator.

Mereka yang sekadar ingin menikmati Green Canyon dari jembatan tanah cukup menyewa satu perahu. Namun, bagi yang ingin melakukan rafting, ada Guha Bau Body Rafting yang siap memandu wisatawan.

"Kami siapkan satu paket per lima orang, dengan biaya Rp 875 ribu. Wisatawan akan dipandu dua orang plus makan siang, tiket masuk dan perahu, dan juga asuransi. Kami juga menyediakan kamera antiair untuk dokumentasi," ujar pengelola Guha Bau Body Rafting, Mahmudin, kepada Tribun, Sabtu (7/11). (*)

25 Juli 2007

Museum Sejarah, Bagian Penting Sebuah Kota

Oleh IWAN HERMAWAN, M.Pd.
KETIKA kita bertanya bagaimana Bandung dulu, tentu jawaban yang diberikan selalu diawali dengan konon atau katanya. Jawaban seperti ini jelas bukan jawaban yang tepat bagi generasi muda saat ini yang sudah berpikir kritis. Akibatnya, orang menjadi tidak tahu bagaimana sejarah kota ini dimulai dan berjalan dari masa ke masa dan kenyataan ini tidak hanya terjadi pada orang yang baru menginjakkan kaki di Kota Bandung, melainkan juga pada mereka yang lahir dan besar di kota ini.

Kenangan indah dan pahit masa lalu Kota Bandung hanya menjadi konsumsi orang tua kita yang mengalaminya, sedang anak-anak sekarang hanya kebingungan dibuatnya dan tidak sedikit di antara mereka yang menganggap cerita orang tua hanyalah sebagai dongeng belaka karena tidak ada bukti yang bisa memperkuatnya. Padahal, perjalanan kota ini sudah sangat panjang dan semuanya diisi dengan keindahan serta kegetiran para pelaku sejarah di dalamnya. Akibatnya, generasi muda saat ini menjadi kurang peduli dan bangga akan kotanya, mereka menganggap kotanya tidak mempunyai sesuatu yang perlu dibanggakan, karena tidak ada sesuatu yang dapat membuktikan kota ini mempunyai perjalanan panjang yang penuh dengan keindahan dan kepahitan.

Kenyataan tersebut terjadi sebagai akibat dari minimnya informasi yang diterima oleh generasi muda tentang Kota Bandung. Buku-buku yang memberikan informasi tentang bagaimana perjalanan kota ini sulit diperoleh, karena kalau pun ada sudah menjadi barang langka yang tidak mudah diperoleh di pasaran. Selain itu, tidak adanya museum yang khusus menampilkan materi perjalanan Kota Bandung juga menjadi penyebab minimnya informasi yang diperoleh generasi muda tentang kota ini.

Museum perjalanan Bandung

Perjalanan panjang Kota Bandung dengan berbagai peristiwa yang mengiringi serta keindahan alamnya telah menjadi kenangan yang terus melekat pada orang-orang yang merasakannya. Oma-opa serta kakek-nenek kita yang pernah mengalami zaman keemasan Bandung selalu mengenangnya dalam berbagai kisah nostalgia yang diceritakan kepada cucu-cucunya. Tetapi sayang, apa yang diceritakan oleh opa-oma atau nenek-kakek kita tidak dapat dibuktikan oleh cucu-cucunya yang lahir belakangan yang tidak merasakan keindahan dan ketenaran kota ini.

Berbagai bukti peninggalan sejarah telah hilang entah ke mana, banyak taman yang telah tergusur demi pembangunan gedung perkantoran atau perdagangan bahkan perumahan, demikian pula halnya gedung-gedung tua telah bersalin wujud menjadi gedung-gedung berarsitektur modern guna memenuhi kebutuhan berbagai aktivitas warga kota yang dari hari ke hari semakin berjibun jumlahnya.

Minimnya bukti sejarah yang tersisa serta kurangnya pengenalan sejarah kota kepada generasi muda mengakibatkan banyak orang muda di Bandung tidak lagi mengenal bagaimana perjalanan hidup kotanya dari masa ke masa. Kenyataan ini menurut para ahli akan memudarkan semangat nasionalisme dan rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitar di mana dia tinggal dan menetap, padahal rasa cinta dan kepedulian terhadap daerahnya merupakan modal bagi pembangunan daerah terutama di era otonomi daerah saat ini.

Salah satu upaya untuk menumbuhkan kembali rasa kepedulian generasi muda terhadap tempat tinggalnya, adalah melalui pendirian museum sejarah Bandung. Timbul pertanyaan mengapa harus museum? Karena museum sebagai lembaga yang menyimpan, merawat, dan memamerkan benda-benda yang mempunyai nilai sejarah bagi umat manusia berkenaan dengan kehidupan dan lingkungannya akan mampu memberikan pengenalan berbagai peristiwa sejarah yang pernah terjadi di kota ini.

Semua aspek sejarah perkembangan Kota Bandung, dari Bandung mulai dikenal oleh dunia luar, kemudian pembabakan oleh para perintis, selanjutnya berbagai kegiatan pembangunan kota yang terjadi di awal-awal pembentukannya yang melibatkan berbagai komponen masyarakat, baik para sinyo Belanda maupun para pribumi, yang telah mengangkat Bandung ke pentas nasional bahkan internasional sampai kepada perkembangan kota ke arah metropolitan yang penuh dengan keramaian aktivitas sebuah kota yang tidak pernah tidur walau sekejap.

Melalui pendirian museum sejarah Bandung diharapkan kenangan indah masa lalu di saat zaman jayanya Kota Bandung yang selalu dikenang oleh opa-oma serta kakek-nenek bahkan buyut kita tidak hanya menjadi milik mereka, tetapi dapat juga dinikmati dan dipelajari oleh generasi muda. Pada akhirnya setelah mengenal Bandung secara lebih mendalam diharapkan mereka dapat belajar dari perjuangan serta upaya para pendiri dan pengelola kota di awal pertumbuhan Bandung yang kemudian diharapkan tumbuh rasa cinta dan bangga akan kota di mana mereka lahir dan tumbuh dewasa. Setelah rasa cinta dan bangga muncul diharapkan pada diri mereka tumbuh rasa peduli terhadap perkembangan pembangunan kota ini dan berupaya untuk turut aktif dalam menggerakkan roda pembangunan melalui berbagai upaya positif bagi pembangunan kota. ***

Penulis mahasiswa program doktor (S3) UPI program studi pendidikan IPS.
Pikiran Rakyat